Ketika aku tahu dia sudah tiada, aku baru menyadari dia adalah hal yang terbaik yang pernah dihadirkan untukku.
Aku melihatnya dengan wajah yang sangat pucat.
Kring kring…. Telpon rumah berbunyi
Aku mengangkat telpon tersebut lalu menyapa suara di seberang sana.
“yeobseo??” tanyaku kepada suara di seberang.
“Soo neul-ah…” terdengar suara di seberang agak sedikit bergetar.
“Wae?” tanyaku heran
“Onew, onew sudah tidak ada. Dia kecelakaan dan meninggal ketika perjalanan menuju Rumah Sakit.”
Tubuhku bergetar, aku tidak percaya.
“bohong.” Jawabku lantang.
“mianhaeyo… tapi dia sudah tidak ada. Datanglah melayat kerumahnya, antarkan dia ke tempat peristirahatan terakhirnya.”
Aku melepas ganggang telpon, aku tertunduk bisu. Aku melihat deret foto, dimana aku berfoto dengan Onew oppa dengan berbagai gaya. Aku tidak menyangka foto terakhir yang baru ku pajang, merupakan foto terakhir kami berdua.
Aku pergi ke rumah Onew, dan melihat orang banyak sudah memakai baju hitam. Aku masuk dan melihat seseorang dengan wajah pucat. Wajah yang sangat tidak asing bagiku, orang yang selalu menemaniku selamanya ini. Dia terbaring tidak berdaya, memakai jas yang rapi. Tak sanggup aku melihatnya. Rasanya seperti pukulan yang sangat keras menyerang tubuhku sehingga aku tidak bisa menopangnya.
Aku melihat dan memegang tangannya yang dingin. Perlahan aku ingat semua kenangan yang telah kami buat bersama. Orang yang menemaniku disaat susah, mengajari tentang hal yang baik padaku. Memperkenalkanku dengan dunia yang dekat dengan Tuhan. Orang yang selalu menanyai kabarku dan apa yang aku lakukan setiap harinya, kini sudah terbaring tidak bernyawa.
Aku marah, aku marah pada Tuhan, kenapa dia mengambil orang yang begitu baik, bahkan yang sangat aku sayangi. Orang yang selalu membuatku merasakan cinta. Orang yang tidak bisa aku lepaskan ketika dia pergi kini telah pergi selamanya. Aku melihatnya lagi, wajah polos yang selalu menemaniku di sekolah. Aku tidak sanggup, aku tidak sanggup, aku tidak bisa melihatnya seperti ini.
Orang yang ku percaya yang hanya memberikan senyum indahnya padaku, orang yang tersenyum lepas, kini senyum itu sudah tidak akan pernah terlihat lagi. Orang yang menangis di hadapanku ketika dia tidak bisa menahan atau membendung perasaannya lagi.
Aku bertanya kenapa? Kenapa? Aku ingin dia kembali padaku. Kembalikan dia , kembalikan dia seperti dulu, jangan pisahkan kami dengan cara seperti ini. Aku melihat wajahnya untuk kesekian kalinya. Aku masih tidak percaya , orang yang sedang tertidur lelap dihadapanku ini tidak akan pernah bangun lagi.
Dalam pikiran ku , aku hanya bisa berkata-kata dengan kata-kata yang selalu aku katakana sejak menggenggam tangannya. Aku mulai bertanya, apa dia merasakan cintaku padanya selama ini? Apa dia juga merasakan hal yang sama? Kembalilah padaku, katakan sesuatu padaku, aku tidak bisa kau tinggalkan dengan situasi seperti, ucapkan 1 atau 2 kata, sehingga aku bisa mengingatmu kembali. Ingin rasanya aku meminta Tuhan juga untuk membunuhku, agar kita bisa bersama. Tapi, aku tidak bisa, aku tidak bisa, kau pasti akan sedih dan malah tidak menerimaku.
Katakanlah 1 atau 2 kata padaku sekarang, aku tidak bisa melihatmu seperti ini lagi. Asalkan kau katakana sepata kata kepadaku, maka aku akan ikhlas. Aku rela membiarkanmu pergi. Jika seperti ini, aku tidak bisa lagi. Kau membuatku tidak berdaya sekarang.
Kau akan segera dibawa ke tempat peristirahatan terakhirmu. Aku tidak bisa melepasmu, aku tidak bisa, aku tidak rela, bahkan untuk melepas tanganmu saja , aku tidak bisa. Sahabat macam apa aku, aku tidak bisa merelakanmu pergi. Seakan aku akan tinggal sendiri tanpa seorang pun.
Kata terakhir dari mu untukku saat itu, kau mau aku menjaga diriku baik-baik, berdoa disetiap aktivitasku, bahkan jangan sampai ada yang menyakitiku. Aku tidak pernah tahu, itu adalah kata terakhirmu untukku. Bahkan di foto terakhir kita, kau tersenyum sangat lepas. Aku tidak tahu itu adalah senyum terakhirmu.
Sampai kapanpun aku tidak akan rela, sampai kau datang dan mengatakan sepata dua pata kata padaku.
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar