Author : Rosaini a.k.a. author
`Cast : Choi Ji si as You,
Choi Siwon as Siwon oppa (Ji Si brother)
Yang Seung Ho Mblaq as Seung Ho
Cameo : Mir Mblaq as Mir
Lee Joon Mblaq as Joon
Tittle : Don’t say goodbye
You POV
“Tanah yang luas dengan rumput hijau diatasnya dan sebuah pohon berdiri tegak dengan daun yang sangat rindang. Alam apa ini namanya? Mengapa begitu indah? Tapi mengapa pohon itu seperti siwon oppa…. Kenapa pohon itu bergumam, apa yang dia katakan. Lebih baik aku dekati saja. Mengapa suara itu seperti mengatakan ireona, ireona …. Maksudnya??? Sepertinya pohon ini akan berteriak.”
“IIIRRRREEEEOOOONNNNAAAAA JIII SIII-SHI ……!!!!!” Menggelegarlah suara siwon oppa di dunia nyata.
“MWOOOOOOOOO???? WWWAAAAEEEE????” aku sontak terbangun dari tempat tidur ku dan langsung duduk sambil berteriak di depan wajahnya.
“temani aku jogging.” Kata siwon oppa dengan nada santai dan aku menyambutnya dengan langsung berbaring dan tidur.
“apa kau akan selamanya begini? Oke kalau begitu aku akan tidur disampingmu!!” katanya ketus dan langsung menarik selimutku dan tidur disampingku.
“OOOOPPPPPAAAAAAAAA…… sempit…. Kalau mau tidur , tidur di kamarmu saja, jangan di tempatku”. Marahku padanya.
“tidak, aku kan sudah lama tidak tidur dengan adikku tercinta dan tersayang ini, sini biar oppa peluk”. Katanya dan langsung memelukku.
“cih,,, aku sudah dewasa, jangan memelukku seperti itu. Aaahhhhh sana…”. Aku mendorong tubuhnya tapi tetap saja dia ingin memelukku.
“shireo,,, biar begini saja kita seharian ini”. Katanya dengan tenang.
“mengapa? Kalau aku ingin pipis, bagaimana? Apa aku harus mengompol disini”. Kataku sinis.
“sudahlah, mari kita berpelukan seharian ini, aku sangat merindukanmu.” Katanya lagi.
“ada apa? Apa oppa punya masalah?” kataku menghadap ke wajahnya dan membalas pelukannya.
“anio, diamlah, biarkan tempat ini sunyi sebentar”. Katanya lagi tapi tampangnya begitu sedih.
Ji si POV end
Flash back on
Siwon POV
Aku duduk di sebuah taman tepatnya di bawah pohon yang sangat rindang. Aku memikirkannya, memikirkan nasib ketidak beruntungan adikku, saudara perempuanku, satu-satunya keluarga yang kupunya sekarang. Entah berapa lama lagi dia akan hidup. Ayah memberitahu penyakitnya kepadaku saat aku berulang tahun ke 17, ayah pikir aku sudah cukup dewasa untuk menjaganya. Sampai akhirnya ayah dan ibu meninggal di saat bersamaan dalam perjalanan menuju ke Jepang. Aku menjaganya, aku melindunginya, aku melakukan segala perintah ayahku sampai diumurku yang ke 26 tahun. Tapi mengingat apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi, aku sangat tidak sanggup untuk melihatnya , menjaganya dan melindunginya.
Tempat ini sangat mengagumkan sekalipun ini larut malam , tempat ini masih sangat indah. Tempat dimana aku dan semua keluargaku berkumpul. Sebentar lagi pukul 05.00 , lebih baik aku pulang dan membangunkannya, entah mengapa hari ini aku tidak bisa tidur karena memikirkannya. Mungkin dengan memeluknya seharian ini bisa membuatku merasa tenang.
Dia masih tertidur lelap, mungkin aku lebih baik mengganggunya. Tapi, apa mungkin dia akan merasa senang. Tapi kalau tidak dicoba , tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.
Flash Back Off
Siwon POV end
Author POV
Ji si dan Siwon berpelukan hingga pukul 10.00 , mereka tertidur lelap sampai akhirnya mereka terbangun karena mengingat ada schedule syuting dengan anak-anak mblaq.
“oppa, bukannya hari ini ada syuting dengan mblaq pukul 11.00 nanti ya?” Tanya Ji si dengan suara parau.
“hmm…” gumam siwon oppa.
“MWOOOOO???” Keduanya terbangun serentak dan berkata serentak.
“apa yang akan kita lakukan?” Tanya siwon oppa bingung.
“dimana lokasi syutingnya?” Tanya Ji si kembali.
Tookkkk ttttooookkkk tttooookkkk ……. Suara pintu di ketok.
“siapa yang mengetok?” Tanya Siwon.
“mollayo….” Jawab Ji Si dengan wajah bingung.
“manager?” Tanya siwon.
“ayooo bangun….” Ajak Ji Si yang langsung berlari ke pintu depan untuk membuka pintu untuk sang manager.
Ttoookkk tttoookkk tttooookkkk….. masih suara ketokan pintu.
“nuguseyo?” Tanya Ji Si masih dari kejauhan.
“ini aku , manager.” Jawab seseorang dari luar pintu.
“nee, chakaman. Annyeongseo , mana---gerrr” Ji Si terkejut karena yang datang adalah manager, kameraman, produser, sutradara dan MBLAQ.
“SSSSUURRRPPPRRRIIIISSSEEE” Teriak anak-anak MBLAQ yang hanya ada Seung Ho, Joon dan Mir.
“aiggooo…. Mengapa syuting disini?” tanyaku bingung.
“Ji si, Nuguya?” Tanya siwon dari dalam dan langsung terkejut melihat para Mblaq yang langsung masuk.
“oh siwon hyung, annyeonghaseo,,,…” sapa mereka bertiga serentak.
“annyeonghaseo, wae … wae… kenapa kalian syuting disini?” Tanya siwon yang sama bingung dengan Ji si sampai akhirnya sang manager menjelaskan semuanya pada mereka.
Dan ternyata syutingnya dimulai dari rumah Ji si dan Siwon. Ji si dan siwon pun meminta waktu untuk bersiap-siap karena mereka baru bangun jadi waktu bersiap-siap pun menjadi setengah jam. Anak-anak mblaq yang jail khususnya Mir dan Joon langsung menggeleda apa saja yang ada di rumah Ji si dan Siwon.
Awal dari penggeledahan dari pintu rumah, Mir dan Joon malah menjelaskan rumah tersebut adalah milik mereka berdua.
“nee, yeorobun, jadi ini lah rumah kami yang baru, kami akan mengajak anda semua para penonton my sweet home untuk melihat-lihat, ppali pplali …..” ajak Mir layaknya rumah itu adalah miliknya.
“jadi ini adalah ruang tamu, kami memilih sofa putih di sini karena warna dinding yang berwarna biru tua ini, menata rumah dengan warna serba putih ini merupakan hal yang sangat menantang kebersihan.” Jelas joon dengan sembarangnya.
“ya benar, kami juga menaruh bunga di setiap sisi, agar terlihat asri dan penuh kelestarian.” Jelas mir kembali dan mengajak joon untuk ke ruang tv.
“ah hyung, bisa menyingkir sebentar, kami sedang menjelaskan rumah baru kami.” Kata mir dengan santainya mengusir leader Mblaq tersebut dari tempat duduknya.
“mwo? Apa kita sedang syuting?” Tanya seung ho yang ternyata lagi asik memandangi album keluarga choi.
“ah nee, kkaja kkaja” usir joon.
Semua ruangan telah luput dijelajahi oleh joon dan mir, sampai-sampai siwon dan ji si yang sudah keluar setelah bersiap-siap tadi, langsung terheran-heran mendengar pengakuan mereka berdua.
“jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya siwon kepada member mblaq dan Ji si.
“mungkin kita harus memasak untuk makan siang”. Jawab mir dan langsung diiyakan oleh joon.
“biar aku dan ji si pergi kepasar untuk membeli sayurnya”. Tawar seung ho.
“lalu aku , apa yang akan aku lakukan?” Tanya siwon.
“karena siwon-ssi adalah tuan rumah kali ini, kita akan menyuruhnya untuk membuatkan minum untuk kita hahahhahah….” Kata joon dan disambut tawa oleh yang lainnya.
Kehebohan pun terjadi selama syuting berlangsung di mulai dari seung ho dan Ji si yang bingung akan memasak apa untuk dimasak, siwon yang membuatkan minuman untuk diminum saat makan siang nanti, mir dan joon yang menyiapkan bumbu masakan, padahal ga tau mau masak apa. Ji si yang memasak makan siang membuat seluruh member mblaq tercengang karena Ji si terlihat seperti chef terpendam karena gaya memasaknya yang seperti professional tapi tidak ditunjukkannya. Syuting selesai pada malam hari pukul 00.00, di halaman belakang rumah siwon dan Ji si. Karena sudah larut malam, para cameramen dan kru-kru lainnya berpamitan untuk pulang, tapi tidak untuk mereka bertiga, joon, seung ho dan mir. Ketiganya malah meminta ijin kepada member mereka untuk tidur di tempat siwon. Apa lagi siwon dengan senang hati menerima mereka. Jadilah mereka tidur di kamar siwon.
Hari semakin larut, Para member masih asyik berbincang dengan siwon. Ji si berada di kamar dan masih mencoba untuk tidur, tapi tetap tidak bisa, kepalanya sakit, badannya berkeringat dingin. Dia mencari handphonenya tapi dia baru ingat kalau handphonenya dia tinggal di dapur. Kini dia harus turun ke bawah untuk memanggil oppanya.
Author POV end
Ji si POV
“bagaimana bisa aku turun dengan kondisi seperti ini, mereka akan melihatku, dan ini sangat tidak bagus.” Kataku sambil memegang kepalaku, aku berusaha menuruni tempat tidurku, aku menyeret tubuhku hingga pintu kamarku terbuka. Aku mengintip dari tangga, mereka masih berbincang-bincang. Aku pun menyenderkan diriku dipagar tangga. Aku menghela nafas dan mencoba berdiri. Aku bisa melakukannnya. Aku turun hingga lantai bawah. Siwon oppa melihatku, dia tersadar cepat dan langsung berlari kearahku, tepat saat aku merasa seperti terjatuh dia langsung menahan tubuhku dan aku pun merasa semuanya menjadi gelap.
Ji Si POV end
Siwon POV
Aku berbincang dengan anak-anak mblaq dengan sangat lucunya, aku bisa melupakan beban pikiranku karena mereka. Mereka sahabatku yang sangat baik. Sebelum debut, kami selalu bersama, mereka juga menghabiskan waktu mereka bersama keluarga kami. Sampai orang tuaku telah tiada pun, mereka masih tetap bersamaku dan menganggapku seperti saudara mereka,mereka begitu menyayangi Ji si, terutama Seung ho, setiap hari dia selalu bertanya bagaimana kondisi Ji Si, apa masih sering pingsan. Seung Ho sangat tahu kalau Ji si sering pingsan, waktu mereka bersekolah dulu dia selalu menggendong Ji si jika Ji si pingsan, bahkan Ji si pernah pingsan di acara variety show dan reality show, tapi semuanya hanya bersikap biasa saja padanya.
Aku melihatnya turun tangga, dia ingin berjalan menuju dapur, tapi ada yang lain dengannya, dia memegangi kepalanya dan matanya terpenjam, aku pun langsung berlari ke arahnya, tepat disaat aku sampai, dia terjatuh ke dalam peganganku, aku langsung menggendongnya ke kamarku, aku berlari mengambil obatnya di kamar dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya, aku meminum air dan memberikan air itu ke mulutnya. Tidak banyak yang bisa ku perbuat padanya, tapi aku masih berusaha melakukan yang terbaik.
Semua member mblaq melihatku. Aku pun mengajak mereka untuk duduk di luar, aku pun bercerita kepada mereka tentang penyakit Ji si sebenarnya. Mereka begitu terkejut, seung ho begitu terpukul mendengar hal tersebut. Mereka bertiga sebenarnya sedikit kecewa karena siwon tidak mengatakan langsung pada mereka dari dulu. Tapi disatu sisi mereka merasa kasihan melihat siwon yang ternyata begitu hebat menjaga adiknya selama ini. Siwon pun pergi ke balkon untuk menenangkan diri.
Siwon POV end
Author POV
“Tuhan, mengapa engkau berbuat seperti itu kepada keluargaku? Apa salah keluargaku padamu, Tuhan?” ucap siwon lirih sambil menghadap ke langit. Siwon terus berdoa di balkon sementara member mblaq masih berada di ruang tamu.
“aku akan pergi melihat , Ji si.” Kata Seung Ho dan berjalan ke kamar siwon. “Ji si-ssi, gwenchanayo? Appayo? Neomu appa? Mianhaeyo, karena aku tak bisa berbuat yang lebih baik untukmu.” kata seung ho sambil tersedu-sedu.
“Joon hyung, aku masih tidak habis pikir dengan yang terjadi padanya, apa yang kita harus lakukan?” Tanya mir kepada joon di ruang tamu.
“berdoa.” Jawab joon serius.
“siwon hyung, mengapa tak kau bawa dia ke rumah sakit?” Tanya joon yang melihat siwon turun dari tangga.
“aku sudah memesan tiket, kami akan ke Amerika besok.” Jawab siwon dengan tampang sedih
“aku ikut.” Seung ho yang keluar dari kamar langsung memberikan permintaannya.
“tapi, jadwalmu?” Tanya siwon.
“dia gadis yang kusayangi, mana mungkin aku meninggalkannya.” Kata seung ho.
“opppaaaa….” Teriak Ji si dari kamar siwon, siwon pun langsung berlari ke kamar bersama seung ho di depannya.
“wae? Gwenchanayo…”. Tanya siwon sambil memeluk Ji Si.
“oppa, hiks hiks hiks,,,, oppaa… oppaaa…..”. Ji si masih berteriak.
“gwenchana , gwenchana…” kata siwon menenangkan.
“marebwa, marebwa, jangan sembunyikan lagi, aku sudah tidak tahan lagi.” Kata Ji si dengan suara tangisnya.
“khajima, ssttt uljima,,,” peluk siwon erat kepada adiknya sambil menangis terisak.
“mmaareeebbwwaa…. Jebal…” pinta Ji si sambil menangis.
“ani, shireo,, mianhaeyo, mianhae, nae saengil, mianhae, oppa … oppaaa shireo…. Mianhae…” siwon tak bisa berkata apapun.
“wae? Hiks hiks hiks,,, mengapa aku tidak boleh tahu? Aku sakit, aku tahu, tapi sakit apa? Aku tidak mau mengucapkan selamat tinggal jika aku tidak tahu, ketika aku tahu aku akan lebih rela untuk mengatakannya.” Kata Ji si yang sepertinya mulai tau , apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“uljima, ni geusori, geusori, malhajimaaaa,,, jeball…”kata siwon tak tahan melihat keingintahuan adiknya.
“oppaaa… hiks hiks hiks….” Tangis Ji si yang benar-benar menyayat hati siwon.
Beberapa jam kemudian Ji si sudah tidur dalam pelukan siwon. Ke-3 member mblaq menemani mereka berdua di kamar, seung ho berada di pinggir ranjang, sedangkan joon dan mir berada di sofa kamar. Semuanya terdiam, tak ada keributan sama sekali. Semuanya seperti kehabisan kata-kata, seung ho melihat coretan kalender siwon di samping tempat tidurnya. Seung ho membolak-balik kalender dari januari hingga juli semuanya disilang hingga tanggal 23 tapi ada yang aneh tanggal 25 terdapat bulatan, tanggal apa itu, mengapa dibulatkan. Seung ho memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut kepada siwon tapi siwon memberi aba-aba seperti itu akan dibicarakan diluar nanti. Joon dan mir kini sudah terlelap, tapi seung ho tidak mau ada yang tidak mendengar penjelasan siwon. Seung ho pun membangunkan mir dan joon.
Diluar, mereka duduk di sofa, Siwon menjelaskan tentang arti bulatan pada tanggal itu, menurut dokter ditanggal itu lah Ji si akan meninggalkan kita semua. Semuanya terkejut karena tanggal 25 itu adalah hari esok. Siwon menetapkan penerbangan ke amerika pukul 09.00 nanti. Pukul sudah menunjukkan pukul 06.00, masih ada 2 setengah jam sebelum check in. siwon pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke kamar ji si. Siwon mengambil sebuah koper biru muda, siwon membawa koper berisi 3 potong pakaian saja keluar dari kamar ji si. Kemudian siwon menaruh koper tersebut dekat tangga. Siwon masuk ke kamarnya, lalu keluar sambil membawa gaun pengantin, gaun resepsi, dan gaun malam, siwon memasukkan kembali gaun itu ke koper. Siwon kemudian masuk lagi lalu membawa keluar koper miliknya. Siwon berjalan lunglai tak tentu arah, pikirannya sedang melayang. Dia menuju dapur. Siwon disaksikan oleh ke tiga member mblaq sedang memasak masakan kesukaan Ji si. Siwon memasak sambil tersenyum sedih, tak ada kata keluar dari bibir yang tersenyum miris dengan air mata keluar dari kedua bola matanya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00, siwon sudah bersiap-siap, member mblaq membantunya selalu. Siwon meminta mereka keluar kamar sebentar karena dia ingin mengganti baju Ji si. Ji si masih tertidur pulas hingga siwon harus menggendongnya ke mobil. Siwon memakaikan Ji si sebuah dress yang sangat cantik, dia mendadani Ji si , sehingga seperti putri tidur. Sesampai di bandara , siwon dibantu member mblaq check in. ternyata , member mblaq sudah menyuruh cheondong dan G.O. untuk mengemasi barang mereka berlima untuk keberangkatan mereka ke Amerika, Siwon sangat terkejut sekaligus bahagia karena ternyata dia tidak sendiri selama ini.
Semua pasang mata, melihat mereka. Member mblaq membawa koper siwon dan Ji si, sedangkan siwon harus menggendong Ji si. Karena banyak yang ingin meminta foto dengan mereka, Siwon pun marah. Tidak ada yang pernah melihat siwon semarah itu ketika memasuki ruang check in. sampai akhirnya semuanya pun bubar ketika diminta baik-baik oleh member mblaq. Semuanya pun berbisik-bisik sampai mereka masuk ke ruang check in pun masih banyak pasang mata yang melihat mereka.
Beberapa jam kemudian mereka telah tiba di Amerika, berita tentang siwon marah pun telah tersebar di korea, mblaq yang bersama siwon dan Ji si, mengapa Ji si tidak sadarkan diri, semua tersebar cepat di korea. Tapi semua itu sudah dianggap angin lalu oleh siwon dan member mblaq. Mereka pun sampai di rumah siwon dan Ji si di Amerika, banyak sekali foto mereka dan orang tua mereka terpampang di sana. Ji si sudah bangun dari tidur panjangnya. Tanpa istirahat sedetik pun dan dengan semangat Ji si mengajak mereka berfoto, semua pakaian yang di masukkan siwon kedalam kopernya di pakainya dan digunakan untuk berbagai foto bersama member mblaq dan siwon. Sampai akhirnya sesi foto menggunakan tuxedo dan gaun pengantin pun merupakan hal yang paling mengharukan. Ji si mendadani dirinya secantik mungkin dan membantu oppanya beserta member yang lainnya untuk berdandan. Semuanya tampil elegan malam itu, mereka memulai foto baju pengantin itu di rumah dan berjalan ke kafe-kafe untuk berfoto.
Semuanya terasa gembira malam ini, mereka mengakhiri hari di sebuah restoran. Mereka memesan makanan lalu berbincang-bincang seperti keluarga.
“oppa, siapa yang akan menikah denganku malam ini? Mengapa semuanya jadi memakai tuxedo untuk pengantin pria?” Tanya Ji si iseng.
“kau akan menikah dengan kami semua hahahhahah….” Canda mir dan langsung di ketok oleh seung ho.
“hish bilang saja, hyung ingin menikah dengannya.”sela joon khusus membuat seung ho malu.
“oppa… oppa….” Panggil ji si.
“wae? Ji si … ji si…” siwon kaget karena ketika memanggilnya, Ji si langsung pingsan.
Mereka semua berada di rumah sakit menunggu Ji si sadar. Dokter pun keluar dari ruangan Ji si, siwon pun langsung tergesa-gesa ingin menanyai keadaan adiknya itu.
“dokter, bagaimana keadaan adik saya?” tanyanya pada dokter.
“waktunya tidak banyak, temuilah dia sekarang. Penyakitnya sudah terlampau parah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Jawab sang dokter dan diikuti tangis semua member mblaq dan siwon pun lemas kakinya karena tak bisa melakukan hal terbaik untuk adik semata wayangnya.
“mari kita lihat dia hyung.” Ajak cheondong.
“hmm.”gumam siwon dibantu G.O dan seung ho untuk berdiri.
Siwon melihat adiknya terbaring lemah, dengan gaun pengantin pilihannya beberapa hari lalu. Dia ingin sekali memakai gaun pengantin itu, tapi pacar saja dia tidak punya.
“oppa….” Panggil Ji si.
“nee, oppa disini.” Kata siwon sambil menggenggam tangan Ji si.
“oppa, mianhae telah merepotkanmu selama ini. Aku mencintaimu, kelak jadilah oppa ku lagi ya, aku tau waktu ku sudah tak banyak lagi.” Kata ji si.
“sstt…” siwon menaruh telunjuknya di bibir ji si dan langsung memeluknya erat.
“Seung ho oppa, gomawoyo, kelak aku akan melakukan hal lebih baik agar bisa menjadi wanitamu hahahahha,,,, mir oppa, jangan jail terus , kau tetap yang terlucu dan terimut kok hheheh,,, joon oppa, lebih banyaklah tersenyum di foto-fotomu ya,,,muka mu itu sungguh menakutkan di setiap fotomu…. Cheondong oppa, gomawoyo selalu menemaniku jalan-jalan hehehhe,,, aku sangat senang bisa mengenalmu,,, G.O oppa,, gomawoyo karena telah mengajarkanku bernyanyi,,,hiks hiks,,” tutup ji si.
“aku akan mengajarimu terus, selalu…”kata G.O oppa.
“aku akan menemanimu selalu, beritahu saja kau ingin jalan kemana, dan aku akan membawamu.” Kata cheondong berusaha menahan airmatanya.
“aku akan selalu tersenyum di fotoku.”kata joon oppa sambil menghapus air matanya.
“aku akan tetap lucu dan imut, untukmu sayang.” Kata mir dengan rayuannya.
“you are my girl, you are my baby, always be my wife, always be mind, kau adalah pemilik hatiku selamanya. Maaf aku belum sempat mengatakannya karena aku takut, tapi kali ini tidak akan ku tunda lagi. Saranghaeyo.” Kata seung ho oppa dan langsung mencium bibir Ji si.
“berhenti mencium adikku didepanku.”kata siwon jengkel.
“siwon oppa, jaga dirimu baik-baik ya. Come here , let me kiss you, my oppa…. Mmmuuuaaaccchhh….” Ji si mencium kakaknya itu tepat dibibirnya, dipipinya, jidatnya, dagunya, hidungnya, dan kedua matanya, siwon pun melakukan hal yang sama. Tetapi, ketika bibir siwon mencium bibir adiknya itu, bibir siwon merasakan bibir yang dingin, dia melihat Ji si telah tidur untuk selamanya. Siwon tidak bisa berkata apa-apa. Semua orang yang ada didalam ruangan pun menangis pecah.
Author POV end
Siwon POV
Dia telah tiada, pemakaman hari ini begitu ramai, aku tidak dia begitu disukai banyak orang, bahkan fans yang kumarahi waktu itu juga datang dan meminta maaf kepada ku, aku tidak begitu banyaknya orang yang sangat simpatik padanya. Aku berharap dia bahagia di sana. Tak banyak cara yang bisa aku lakukan padanya, tapi aku sungguh menyayanginya.
Siwon POV end
Breaking News : artis cantik Choi Ji si baru saja menghembuskan nafas terakhirnya di amerika pukul 00.00 dini hari dikarenakan penyakit yang dideritanya, kami semua berdoa agar dia bahagia disisi-Nya. Berikut adalah laporan dari tempat pemakaman.
Choi siwon : saya sangat menyayanginya, tapi saya tidak bisa menghentikan semua ini.
Choi Minho : dia adalah sepupu yang baik
Mblaq : kami semua selalu berharap yang terbaik untuknya
Jin Young Park : meskipun bukan anggota dari management kami, tapi saya sangat menghargai karyanya
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar